.

Rabu, 21 September 2016

Rekayasa Keandalan "HUMAN ERROR"

Human error pada operator

Love dan josephson (2004) mendefinisikan human error sebagai kegagalan dari menusia untuk melakukan tugas yang telah didesain dalam batas ketepatan, rangkaian atau waktu tertentu.
Peters (2006) menyebutkan bahwa human error adalah suatu penyimpangan dari standar performasi yang telah ditentukan sebelumnya sehingga menyebabkan adanya penundaan akibat dari kesulitan, masalah, insiden dan kegagalan.
Human error merupakan kesalahan dalam pekerjaan yang disebabkan oleh ketidaksesuaian atas pencapaian dengan apa yang diharapkan.
Tingkat kegagalan manusia tergantung pada banyak faktor,
Faktor faktor itu dapat dikelompokkan , yaitu :intrinsic, lingkungan kerja, tekanan atau stress.
Sedangkan tingkah laku setiap manusia, menurut Eldukair and Ayyub, 1991, menyebutkan tigkah laku manusia dapat dipengaruhi oleh :
1.      Penetahuan yang tidak memadai
2.      Kurangnya pendidikan dan pelatihan
3.      Kurangnya imajinasi/tinjauan ke masa depan
4.      Kurangnya wibawa dalam mengambil keputusan
5.      Kepercayaan/ketergantungan pada pihak lain
6.      Estimasi yang terlalu rendah dalam desain dan konstruksi
7.      Ketidaktahuan, kelalaian dan kecerobahon
8.      Situasi yang benar benar tidak diketahui
9.      Kurangnya kemampuan untuk berkomunikasi
Karena itu dapat dipastikan bahwa sebuah kesalahan menjadi elamen dari yang patut dicela dari individu, sebagai contoh, didefinisikan oleh Stewart (1993 dalam Atkinson, 1998) sebagai “ tidakan manusia yang melampaui batas tertentu yang dapat diterima”.
Hal yang melatarbelakangi dilakukannya penelitian megenai human error ini yaitu untuk megetahui seberapa besar penyimpangan dan penyebab penyebab terjadinya human error, khususnya penelitian yang dilakukan di PT X ini.
Penelitian dilakukan di PT. X
PT. X merupakan salah satu perusahaan suplier utama komponen plastik kulkas untuk PT. LG indonesia.
PT. LG indonesia memberlakukan penalti pada PT. X untuk setiap komponen yang cacat.
Hal itu yang menyebabkan pentingnya mengetahui seberapa besar kesalahan dan penyimpangan dan di sektor manasaja yang mengakibatkan kerugian di PT X tersebut.
Yang menjadi komponen utama dalam penelitian ini adalah sistem kerja setiap operator, Tugas tugas operator, yaitu: Megambil “shroud” dari mesin injeksi, merakit komponen pada motor shroud, Inspeksi produk, hingga packaging. Sedangkan operator sendiri dalam pekerjaannya dibagi dalam 3 tahapan waktu, yaitu : Shif I 07.00-15.00, Shif II 15.00-23.00, Shif III 23.00-07.00.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode “human reability assessement”, Pendekatan yang digunakan untuk megetahui tingkat keadaan manusia yang menjadi anggota dari suatu sistem.
Bell (2009) menyebutkan bahwa untuk melakukan penilaian keadaan manusia (human reability assessement – HRA) dapat dipakai metode kualitatif dan kuantitatif, sehingga dapat dilakukan penilaian mengenai kontribusi manusia terhadap resiko, dapat dilakukan pengukuran probabilitas terjadinya error dengan metode HEART. Untuk mengevaluasi kemungkinan kesalahan manusia terjadi di seluruh penyelesaian tugas tertentu.

Kesimpulan
Berdasar hasi peelitian yang dilakukan, diketahui bahwa kesalahan operator yang tidak menyisip sisi flash bidang shroud menjadi penyebeb utama dari diberikannya penalti oleh pihak konsumen.

Dikutip dari :


Bell, Julie & Justin Holroyd. (2009). Review of human reliability assessment methods,Health and Safety Laboratory. Tersedia di http://www.hse.gov.uk/research/rrpdf/rr679.pdf. Diakses pada 19 september 2016.

Peters, B.J & George A. Peters. (2006). Human Error: Causes and Control. CRC Press LLC).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.